07
Mei
09

Suharto Menjelang Ajal

Suara-Suara di Seputar Soeharto
Gigin Praginanto
HM Soeharto.
(iPhA/Indra Shalihin)

INILAH.COM, Jakarta – Entah sudah berapa banyak politisi, pebisnis, dan tokoh agama menjenguk mantan Presiden Soeharto di RS Pusat Pertamina. Berbagai pernyataan, dari yang anti sampai pro mantan Jenderal Bintang Lima itu pun terus berhamburan dari segala pelosok Nusantara. Motifnya beragam.

Soeharto yang kini lunglai itu seolah menjadi komoditas sangat pas untuk mengatrol popularitas. Metode yang dipakai juga bermacam-macam.

Ada yang mengecam dengan sadis. Ada pula yang memuji setinggi langit. Ada yang berbicara secara pribadi. Ada pula yang mengatasnamakan kelompok.

Tentunya banyak juga yang tulus, karena bagian terdalam dari hati mereka memang sangat mecintai atau sebaliknya, membenci Soeharto. Maklum, ketika Soeharto masih berkuasa, tak sedikit orang Indonesia yang kebagian rezeki.

Harus diakui, Indonesia menikmati pertumbuhan ekonomi cukup tinggi di zaman Soeharto, karena gerak roda pembangunan berjalan lebih kencang.

Di zaman Soekarno, program-program pembangunan lebih kerap macet karena berulang kali disabotase oleh pemberontakan dan aksi militer Belanda. Kemelut politik berkepanjangan akibat pemberlakuan sistim demokrasi liberal, juga membuat gerak roda pembangunan Indonesia nyaris macet total.

Maka, di zaman Soeharto, kemakmuran menjadi lebih nyata. Bahkan ada yang terlalu nyata, sehingga mendominasi daftar 20 orang paling kaya di Indonesia. Hidup kaum supermakmur ini ibarat pepatah, “Pemerintah Boleh Berganti, Tapi Kemakmuran Kami Tak Boleh Berlalu.”

Kini, pengaruh mereka di kancah politik tampak makin menguat. Berbekal uang yang berlimpah, mereka mengendalikan para politisi berpengaruh, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Sedangkan soal yudikatif, itu memang sudah lama berada di genggaman mereka.

Sebaliknya, ada pula yang sangat menderita. Ingat, ketika baru berhasil naik ke tampuk kekuasaan, Soeharto mengirim puluhan ribu lawan politiknya ke penjara selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang sampai puluhan tahun, dan tanpa proses pengadilan.

Tak cuma itu. ‘Kening’ mereka dan seluruh keluarganya, termasuk yang masih orok, juga diberi stempel ‘komunis’. Akibatnya, mereka harus hidup sebagai warga negara kelas dua.

Menjelang kejatuhan Soeharto, sejumlah aktivis prodemokrasi juga lenyap begitu saja. Selain itu, 29 warga sipil tewas dalam Tragedi Semanggi I dan II pada November 1998 dan September 1999.

Ini belum termasuk mereka yang menjadi korban tindak kekerasan aparat keamanan ketika menghadapi aksi-aksi demonstrasi antipemerintah di masa puncak kekuasaan Soeharto.

Kini Soeharto telah renta dan tak berdaya. Kondisinya memicu perdebatan sengit, apakah ia masih layak untuk diadili atau tidak. Pramono Anung dari PDIP misalnya, menyatakan tidak perlu, karena Soeharto telah banyak berjasa bagi Indonesia.

Sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, “Kalau kita mengadili Pak Harto secara pidana, itu jelas melanggar hukum. Sebab hanya mereka yang sehat secara fisik dan mental boleh diadili.”

Ada pula yang menuntut agar Soeharto tetap diadili meski secara in absentia. Di antaranya adalah kelompok Petisi 50, yang sudah lama menyatakan diri sebagai lawan politik Soeharto. Alasannya, bila tak diadili, akan muncul ‘Soeharto-Soeharto’ baru di masa mendatang.

Terlepas dari mana yang benar atau salah, semua perdebatan itu dicatat dan direkam oleh media massa, dan – suatu saat – akan dituangkan ke dalam berbagai buku sebagai sepenggal sejarah penting Indonesia.

Apa pun isi buku-buku itu, agaknya bisa ditarik sebuah kesimpulan umum. “Bila tak ingin susah di hari tua, sebaiknya jangan menjadi penguasa bertangan besi.” [P1]


0 Responses to “Suharto Menjelang Ajal”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: