27
Apr
09

Sintong Panjaitan “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”

Media Online Bersama Toba dot Com – Buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’ karya Sintong Panjaitan mendapat sambutan positif dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras. Informasi yang diberikan Sintong, bisa digunakan sebagai informasi tambahan dalam menguak kasus orang hilang.

Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, Luhut Panjaitan layak dapat bintang. Sebab Luhut adalah perwira yang menggagalkan upaya penculikan para jenderal yang hendak dilakukan Kapten Prabowo Subianto pada Maret 1983, sebagai upaya counter coup.

Kala itu, Mayor Luhut Pandjaitan adalah Komandan Den 81/Antiteror, sedangkan Prabowo adalah wakil Luhut dengan pangkat kapten. Suatu pagi, Luhut datang ke markasnya di Cijantung dan kaget karena pasukan dalam keadaan siaga. Ternyata pasukan siaga atas perintah Prabowo yang mendengar LB Moerdani akan melakukan kudeta.

Luhut lalu membubarkan pasukan dan menegaskan tak ada kudeta.
Dalam buku Sintong Panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, disebutkan, seandainya Luhut terlambat datang ke Mako Den 81/Antiteror pada pagi hari itu, dapat dipastikan penculikan para perwira tinggi ABRI terlaksana.

Seandainya rencana penculikan itu berhasil dilakukan, hal itu berpeluang membatalkan pelaksanaan Sidang Umum MPR.
“Sebenarnya Luhut pantas mendapat ‘bintang’ karena dia telah berhasil menggagalkan rencana penculikan para perwira tinggi ABRI yang berdampak nasional,” komentar Sintong Panjaitan di halaman 463.

Namun faktanya karier Luhut mentok. Zaman Soeharto dia hanya sampai letnan jenderal dan tak pernah menjabat panglima. Baru setelah Soeharto lengser, Luhut mendapat anugerah bintang menjadi jenderal dan diangkat sebagai Dubes Singapura lalu Menperindag era Presiden Gus Dur.

Dalam buku itu tertulis bahwa Luhut juga sempat dituduh hendak melakukan kudeta pada Soeharto sehubungan dengan pembangunan proyek intelijen teknik Den 81. “Matilah aku…Waduh! Jadi rempeyeklah aku,” kelakar Luhut.

Luhut juga dituduh sebagai anak emas Benny Moerdani sehingga lantas disingkirkan. Luhut dilaporkan macam-macam kepada Soeharto sehingga ia menjadi pemegang kartu mati.
Gus Dur, Marzuki Darusman, Agum Hadiri Launching Buku Sintong

Peluncuran buku memoir Letjen (Purn) Sintong Panjaitan ternyata bak magnet bagi orang-orang penting di Indonesia. Sejumlah tokoh nasional pun terlihat datang ke acara yang digelar di Balai Sudirman, Jl Soepomo, Jakarta Selatan, itu.

Rabu (11/3/2009), tokoh pertama yang hadir adalah mantan Presiden Abdurrahman Wahid.
Pria yang akrab dipanggil Gus Dur itu tiba di lokasi sekitar pukul 18.30 WIB. Dikawal para ajudannya, kedatangan Gus Dur langsung disambut Sintong di pintu masuk acara.

“Saya Sintong Panjaitan,” kata Sintong sambil menjabat lengan Gus Dur
“Oh ya,” sambut Gus Dur.

Usai memberikan sambutan khusus, Sintong lalu mengantar Gus Dur menuju kursi kehormatan di barisan terdepan.

Tokoh selanjutnya yang datang adalah mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman. Kedatangannya disusul mantan ketua Koni Agum Gumelar yang tiba 5 menit kemudian.

Selain tamu-tamu yang hadir, sejumlah tokoh nasional terlihat mengirimkan karangan bunga. Tampak karangan bunga dari Menneg Pora Adhyaksa Dault, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Kepala Bappenas/Menteri PPN Paskah Suzetta.

Informasi yang diterima, acara launching buku yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” itu, juga dihadiri sejumlah duta besar juga dikabarkan akan hadir.

Hembuskan Isu Kudeta, Harusnya Prabowo Diberi Tindakan
Menurut Letjen Purn Sintong Panjaitan, tuduhan bahwa Jenderal LB Moerdani akan melakukan coup d’etat hanya dilakukan oleh orang sakit. Tuduhan itu tidak nyata, tapi diciptakan.

Dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Sintong menyatakan bahwa tuduhan itu itu dilontarkan oleh seorang kapten (Kapten Prabowo Subianto-red) yang tidak mempunyai perangkat untuk menyelidiki kebenarannya.
“Seharusnya terhadap Prabowo yang melontarkan tuduhan itu harus diambil tindakan,” ujar
Sintong di halaman 466.

Dalam halaman 36 buku tersebut, Sintong mengatakan bahwa Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Hankam/Panglima ABRI telah gagal menangani pengamanan peristiwa 21 Mei 1998. Kegagalan itu merupakan blunder terburuk dalam sejarah ABRI sejak tahun 1945.

Sedangkan dalam halaman 34 dia mengungkapkan keheranannya mengapa tiada seorang pun dari para perwira tinggi ABRI yang mengambil tindakan pengamanan dalam peristiwa Mei 98 tersebut. Padahal waktu itu 90 persen kekuatan Kostrad di bawah komanda Letjen Prabowo Subianto berada di Jakarta.

“Tentara ada di mana-mana dan dapat digerakkan ke mana pun diperlukan. Tetapi mereka tidak mendapat perintah,” demikian bunyi paragraf pertama pada halaman 35 buku setebal 520 halaman tersebut.


0 Responses to “Sintong Panjaitan “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando””



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: