10
Mar
08

Wanita Orgasme

Wanita Orgasme

Menurut The New Hite Report, hanya 16 persen wanita di Inggris mencapai orgasme teratur selama hubungan intim dan bahkan banyak yang tidak mengalaminya sama sekali. Apabila anda salah satunya, berikut cara yang dapat anda lakukan untuk mendapatkan hal yang sama seperti pasangan anda alami:

* Ajari pasangan anda

Disini anda memegang peranan karena bagaimanapun hebatnya pasangan anda, ia hampir tidak mengetahui semua jenis sentuhan yang anda inginkan-apa yang harus ditekan, seberapa cepat dan untuk apa. Karena itu, tunjukan pada pasangan dan biarkan dia memperhatikan. Atau jika hal itu membuat anda tidak merasa nyaman, letakan tangan pasangan anda di atas anda, tuntun sehingga ia akan merasakan apa yang tengah anda lakukan. Berikan pasangan banyak masukan, jangan mengkritiknya jika salah tetapi tunjukan kesenanganan jika ia melakukannya benar.

* Temukan G-spot

G-spot ditemukan oleh ginekolog Ernest Grafenberg merupakan area sangat sensitif di dalam vagina. Dengan menstimulusnya akan menimbulkan sensasi kenikmatan luar biasa dan sering berujung pada orgasme. Cara menemukan G-spot, cobalah berbaring, masukan jari tengah ke dalam vagina kira-kira satu atau dua inch dengan telapak ke depan. Tekan jari anda di atas depan dinding vagina. Apabila terasa seperti mau kencing, bertahanlah beberapa saat.

* Klimaks ketika hubungan intim

Walaupun tidak mudah, satu trik Coital Alignment Technique (CAT) dapat membantu. Dalam posisi ini, penis pasangan anda dapat menstimulus G-spot sehingga memungkinkan anda memiliki kesempatan baik mencapai orgasme.
Mulailah dengan posisi missionary, biarkan kaki bersama-sama diantara anda. Mintalah pasangan anda maju dan mengangkat badannya sehingga penis tepat bersentuhan dengan klitoris. Miringkan pinggul anda sedikit ke atas dan mulai bergerak perlahan-lahan dan lembut. Jangan tergoda untuk memacu, biarkan sensasi menyebar perlahan-lahan.

* Bermain dengan sex toys

Sex toys merupakan bagian yang mengasyikan sebagai bagian dari foreplay karena ini akan memberikan rangsangan efektif. Ada banyak tersedia sex toys yang dapat memberikan pijatan pada daerah sensitif wanita. Misalnya vibrator dipakai di luar atau dildo digunakan di dalam atau love ball yang dapat keluar masuk vagina.

* Konsultasi

Sebagian besar wanita tidak mengalami orgasme karena kurangnya pengetahuan masalah seks. Jika praktek masih belum mendapatkan yang anda inginkan, melainkan hanya merasakan rangsangan seks secara umum atau malah menemukan ketidaknyamanan. Inilah waktunya anda berbicara pada jasa konsultasi untuk meminta nasehat.

WANITA PUN BISA ORGASME
Oleh: Sarlito W. Sarwono*

Mungkin buat rata-rata pembaca Femina, istilah orgasme ini (yang artinya adalah puncak kepuasan yang sangat dahsyat dalam hubungan seksual) tidak asing lagi. Bahkan sebagian pernah mengalaminya ketika berhubungan seks dengan pasangannya, suami maupun bukan suami. Tetapi tahukah anda bahwa dua-pertiga wanita di dunia ini tidak pernah mengalaminya sama sekali (walau pun banyak anaknya), bahkan mendengar istilah itu pun tidak pernah. Seolah-olah hal itu tidak eksis sama sekali di dunia
ini.
Memang, sebagian terbesar dari yang belum pernah tahu, apalagi mengalaminya, adalah
wanita-wanita dari negara-negara yang belum berkembang (termasuk Indonesia), khususnya
di kalangan yang kurang atau tidak berpendidikan. Bahkan di beberapa negara di Afrika, ada
tradisi untuk mengkhitan wanita semasa kecilnya, yaitu dengan cara mengiris seluruh
klitorisnya sehingga wanita itu memang tidak akan mungkin mengalami orgasme seumur
hidupnya (sekali lagi, walaupun ia tetap bisa mempunyai anak banyak).
Tetapi jangan salah. Dari pengamatan dan pengalaman saya di dalam mau pun di luar
kamar praktek, ternyata masih banyak wanita Indonesia dari kelas menengah ke atas
(tentunya sebagian adalah pembaca Femina) yang sama sekali belum pernah mengalami
orgasme, walau pun ia sudah sangat sering mendengarnya.
Salah satu contohnya adalah Rini (bukan nama sebenarnya), isteri seorang perwira menengah ABRI (karena kejadiannya masih di era Orde Baru, ketika ABRI belum jadi TNI) yang karirnya sedang menanjak.
Ibu muda yang cantik ini (usianya antara 36-39 tahun, tetapi tampak seperti baru liwat masa
ABG-nya) mengeluh karena merasa bosan dan jenuh dengan hidupnya.
Padahal ia sendiri sarjana hukum yang, walaupun tidak bekerja, mempunyai posisi penting dalam Persit (Persatuan Isteri Tentara). Anaknya dua orang, pandai-pandai dan sehat. Penghasilan suaminya lebih dari cukup (ia menyetir mobilnya sendiri dan sudah memakai telpon seluler ketika benda itu masih berharga di atas Rp 10 juta, uang Orde Baru). Ia pun sudah Hajah karena mengikuti suaminya ber-Haji Abidin (Atas biaya dinas). Suaminya pun cukup
romantis, tidak sering marah-marah, penuh perhatian dan tidak pernah (sepanjang dia tahu) terlibat dalam kasus WIL (wanita idaman lain).

*Psikolog, penasihat dan anggota Asosiasi Seksologi Indonesia.

Personal site: www.sarlito.com, www.sarlito.net.ms

Tetapi Rini, yang sudah berjilbab sejak jaman jilbab belum populer, tetap jenuh. Tadinya ia mengeluh tentang hidupnya yang membosankan dan tidak tahu lagi mau mencari apa. Tetapi lama kelamaan ia mengaku jenuh dengan suaminya. Ia menjadi sering mengkhayal tentang bagaimana rasanya kalau bersuamikan orang lain. Ketika ditanya apakah ia pernah berhubungan dengan orang lain, ternyata Rini memang sama sekali belum pernah melakukannya.
Suaminya adalah laki-laki pertama yang dicintainya sejak masih taruna AKABRI dan ia memang tidak ingin berhubungan dengan orang lain.
Akhirnya, ketika ditanya apakah Rini pernah orgasme ketika berhubungan dengan suaminya, ia mengaku belum pernah. Hubungan seks terjadi sewaktu-waktu, kapan saja suaminya ingin dan berlangsung cepat, karena suaminya biasanya langsung tertidur setelah mencapai
kepuasannya.
Chauvinism laki-laki. Memang ilmu tentang seks, masih sangat muda dibandingkan dengan usia umat manusia itu sendiri. Penyebabnya di samping ketidak tahuan, juga karena ada pentabuan di hampir setiap masyarakat terhadap seks itu sendiri. Karena itulah baru pada abad ke 16 Leonardo da Vinci bisa membuat patung-patung pria dan wanita lengkap dengan alat kelaminnya, yaitu setelah ia membedah sendiri mayat-mayat pria dan wanita untuk mengamati bagian vital itu.
Setelah revolusi anatomi oleh da Vinci itu maka muncullah temuan-temuan lain (masih di abad ke 16), termasuk anatomi alat kelamin wanita. Gabriele Fallopio, misalnya, menemukan Tuba Fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dengan rahim), Regnier de Graaf menemukan ejakulasi wanita, dan Caspar Berthelsen (Bartholinus)
menemukan kelenjar Bartholin (kelenjar yang mengeluarkan cairan sesaat sebelum terjadi orgasme pada wanita).
Tetapi temuan-temuan itu tidak banyak mengubah nasib wanita. Salah satu penyebabnya adalah karena kalangan ilmuwan sendiri, seperti Sigmund Freud (tokoh Psikoanalisis, 1905) menganggap bahwa dorongan seksual pada wanita tidak eksis, atau kalau pun ada, merupakan kelainan.
Nasib wanita itu juga tidak berubah, bahkan setelah pada tahun 1960 ginekolog asal Berlin yang hijrah ke New York, Grafenberg, menemukan gejala ejakulasi pada wanita dan adanya pusat erotis (sejenis klitoris) yang terletak pada dinding sebelah dalam vagina. Pusat ini kemudian dinamakan G-spot (dari: Grafenberg). Selanjutnya, pada tahun 1966 Ginekolog AS, William H. Masters dan isterinya Virginia Johnson, menemukan bahwa orgasme pada pria adalah tunggal (single orgasm) sementara pada wanita berganda (multiple orgasm).
Temuan Masters & Johnson yang terakhir ini kemudian memicu penelitian-penelitian di kalangan para psikolog seksual. Mereka kemudian menemukan bahwa kunci? Penderitaan? kaum perempuan (termasuk kasus Rini tersebut di atas) adalah proses orgasme pada wanita yang jauh berbeda dari pada pria.
Pria, menurut hasil penelitian Masters & Johnson di laboratorium, hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk meliwati empat fase orgasme, yaitu excitement (terangsang), plateau (mendatar pada puncak keterangsangan), orgasm (kenikmatan yang dahsyat, meledak) dan resolution (kembali ke asal). Tanda-tanda fisik pada pria sangat nyata, yaitu dengan ereksi (penis membesar dan mengeras) dan ejakulasi (penis menyemburkan sperma pada saat orgasme). Tetapi orgasme itu, pada laki-laki, walau pun sangat dahsyat, hanya terjadi sekali.
Untuk terjadi orgasme yang berikut diperlukan minimal satu jam, bahkan seriangkali lebih dari sehari dan proses itu harus diulang dari tahap excitement lagi. Lain halnya dengan wanita. Keempat proses itu harus diliwati dengan perlahan-lahan, kadang-kadang sampai setengah jam atau lebih, karena wanita harus dibangkitkan emosi positifnya dulu sebelum ia bisa masuk ke tahap excitement. Selain itu, proses fisik pada wanita tidak terlalu nyata, karena tidak ada penis yang bereksi.    Tetapi kelenjar Bartholin mengeluarkan cairan pada tahap plateau untuk memperlicin jalan masuknya penis. Perubahan-perubahan bentuk, warna dan posisi juga terjadi pada klitoris, labia minora (bibir dalam) dan labia mayora (bibir luar vagina) dan vagina itu sendiri. Sedangkan pada saat orgasme, terjadi kontraksi-kontraksi pada vagina dan seluruh tubuh wanita. Namun yang paling hebat adalah bahwa wanita mengalami ledakan dahsyat orgasme berkali-kali (bisa 4-5 kali) berturut-turut,
sebelum ia kembali masuk ke tahap resolution.
Perbedaan proses ini, menurut para peneliti psiko-seksual, tidak dipahami oleh para pria, termasuk suaminya Rini. Laki-laki maunya cepat-cepat, sampai ke klimaks, ejakulasi dan langsung tidur setelah fase resolution, karena memang seperti itulah proses sekual laki-laki.
Sudah barang tentu proses yang secepat kilat ini tidak memberi peluang pada wanita untuk menjalani tahap-tahap orgasme secara utuh. Itulah sebabnya wanita tidak akan mencapai orgasme kalau tidak dibantu oleh pasangannya.
Kembali ke kasus
Biasanya kasus-kasus anorgasme (tidak bisa berorgasme) mudah diatasi jika pria pasangan si wanita bisa diajak berkonsultasi. Tetapi kebanyakan kasus, termasuk Rini, tidak bisa membawa suami atau pasangannya, karena pada umumnya laki-laki itu merasa dirinya tidak
bermasalah (yang ke psikolog kan yang bermasalah saja, kata para laki-laki itu). Keangkuhan (chauvinism) laki-laki itulah yang menyebabkan Rini (dan mungkin ada juga di antara para pembaca Femina yang lain) terjebak dalam kejenuhan, ketiadaan makna hidup.
Buat beberapa wanita, misalnya wanita karir, mungkin anorgasme bukan masalah serius. Mereka bisa saja hidup melajang dengan pola hidup aseksual (tanpa seks sama sekali), atau ber-multi-partner. Tetapi buat wanita sejenis Rini, orgasme merupakan suatu kebutuhan nyata, dan satu-satunya penyaluran adalah suaminya. Kegagalan suami untuk memenuhi kebutuhan isterinya ini, bahkan pernah menyebabkan salah satu kasus saya (jauh sebelum Rini), memilih berhubungan lesbian (dengan sesama jenis), karena teman wanitanya itu lebih pandai mengolah emosinya, sehingga ia bisa mencapai orgasme (yang multiple itu).
Karena itu satu-satunya cara untuk wanita seperti Rini (berpartner tunggal, tidak mau selingkuh dan suaminya tidak mau diajak konsultasi) adalah mengajarkan mereka untuk bermasturbasi, karena teknik ini jauh lebih aman ketimbang mencari pria lain (yang mungkin justru lebih angkuh dari suaminya sendiri).

Cara bikin ce orgasm? gampang sebenernya…
1. Buatlah dia bahagia, merasa spesial, merasa dibutuhkan.
2. cium punggung tangannya, pipinya, keningnya, bibirnya, mulutnya.
3. Sampe di kuping, jilat dengan lembut, and whisper some romantic       words…
4. Cium dan jilat juga leher, tengkuk, kemudian dadanya.
5. Tiba di puting, with gently kiss then lick it, don’t take your eyes    off of hers.
6. Boleh lah a lil bit wilder jilatnya…
7. Salah satu jarimu udah sampe di clitoris, gently play it.
Selanjutnya, terserah kalian deh. Yang penting gw dah dapet 2 kali orgy!!!

Berarti satu ‘putaran’ minimal dapet 3 big O, dong
Amazing … !

Gw kalo lagi ngelakuin sama bini gw bisa tahan sampe 3 kali dia orgasme tapi gw engga (gw orgasme di kali ketiga), tapi gw bisa ngelakuin itu kalo gw dah ngeluarin sperma pertama, maksutnya setelah ejakulasi pertama, dan setelah istirahat kemudian dilanjutkan baru gw bisa tahan 1 sampe 1,5 jam ga orgasme, jadi faktor kepuasan menurut gw tetep aja berhubungan dengan orgasme yg dimiliki pasangan, semakin tahan lama penis kita ya pasti makin puas…

kalo gini sih harus ngandalin komunikasi 2 arah…

cowok ga boleh egois, cewek juga jangan malu untuk ngomong
QUOTE(AphroDitee @ Jan 19 2006, 12:20 PM)


0 Responses to “Wanita Orgasme”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: